Revitalisasi Peran Konselor: Arah Baru Konseling Berbasis Kipas Menuju Profesionalisasi Konselor

Authors

  • Moh Ziyadul Haq Annajih IAI Miftahul Ulum Pamekasan
  • Ishlakhatus Saidah IAIN Madura

DOI:

https://doi.org/10.36420/dawa.v2i2.208

Keywords:

revitalisasi, konseling kipas

Abstract

Bimbingan dan konseling di Indonesia telah resmi masuk sejak 1975. Namun, dalam praktiknya bimbingan konseling kerap mengalami kendala, sehingga eksistensinya cendrung bernada negatif. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu keterbatasan kualitas sumber daya manusia dalam bidang bimbingan dan konseling. Karenanya, dalam implementasinya layanan konseling di sekolah kurang efektif. Model konseling KIPAS hadir menjadi tawaran alternatif terhadap problematik tersebut. Konsepsi KIPAS menawarkan posisi diri sebagai syarat kualitas upaya meminimalisir nada negatif terhadap bimbingan dan konseling. KIPAS yang merupakan akronim (posisi diri) dari (1) kawan, (2) inovator, (3) pamong, (4) abdi, dan (5) supporter. Dalam implementasinya, langkah model KIPAS yaitu, (1) kabar gembira; (2) integrasi dan internalisasi; (3) perencanaan tindakan; (4) aktualisasi; dan (5) sertifikasi. Hal ini menunjukkan bahwa konsepsi konseling KIPAS memang dipersiapkan untuk menjadi tawaran mencerahkan bagi ketimpangan pelaksanan bimbingan konseling selama ini. Melalui konsepsi ini, diharapkan terciptanya suasana baru yang lebih menggembirakan dan mengubah stigma konseling ke arah yang lebih baik.

References

ABKIN. 2007. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Depdiknas.

Brown, D., Pryzwansky, W.B. dan Schulte, A.C. 2001. Psychological Consultation: Introduction to Theory and Practice. Boston: Allyn and Bacon.

Depdiknas. 2008. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal

Elia Flurentin. 2014. Pembelajaran Sikap: Salah Satu bentuk Pengembangan Profesi Konselor (Prosiding Seminar Nasional), Malang.

Fitriana. S. 2013. Pentingnya Pelayanan BK dalam Pengembangan Kurikulum 2013 untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling. UNY, Yogyakarta

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan Penjaminan Mutu Pendidikan Pendidikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Lines, D. 2006. Brief Counselling in Schools. London: Sage Publication. Murray, K. 2004. Preventing Professional School Counselor Burnout. In Professional School Counseling A Handbook of Theories, Programs & Practices. Edited by Bradley E. Erford. p. 889-894. Texas: CAPS Press.

Lunenburg, F.C (2010) School Guidence and Conseling Services, Schooling Volume I, Number (2010)

Mappiare-AT., A., 2015. Konstruksi Karakter Berbasis Budaya Nusantara untuk Pendidikan dan Konseling Multibudaya Model KIPAS.

Mappiare-AT., A., 2017. Meramu Model Konseling Berbasis Budaya Nusantara: KIPAS. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Budaya Konseling. FIP Universitas Negeri Malang.

Mohamad Surya. 2013. Revitalisasi Konseling Dalam Membangun Karakter (Majalah Bimbingan dan Konseling), Bandung.

Rahmi, S. 2017. Karakter Ideal Konselor dalam Budaya Bugis: Kajian Hermeneutik terhadap Teks Pappaseng. Tesis tidak dipublikasikan. Malang: Program Studi Bimbingan dan Konseling, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.

Yusuf, S dan Nurihsan, J. 2009. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Downloads

Published

2023-02-16